Gendrang perang tarif dan
perdagangan internasional resmi ditabuh oleh Presiden Amerika Serikat Donald
Trump. Pada Rabu, 2 April 2025, bertempat di Rose Garden, Gedung Putih AS, Presiden
Trump mengumumkan pengenaan tarif impor atau bea masuk kepada 180 negara. Deklarasi
pemberlakuan tarif baru bertajuk liberation day atau hari pembebasan
tersebut mengutip keterangan Presiden Trump sejatinya merupakan tarif balasan atau
timbal balik (resiprokal) yang dikenakan oleh negara-negara terdampak atas
produk-produk AS.
Dampak dari kebijakan ini sangat
sistemik dan pelik, negara--negara seperti China, Kanada, dengan lantang menyatakan
akan membalas tarif yang diberlakukan Trump. Sementara mitra atau aliansi dagang
AS seperti Australia dan Jepang sangat menyayangkan kebijakan baru Trump.
Perdana Menteri Australia, Anthony Albanese, misalnya, menyatakan bahwa tarif
baru Trump tidak memiliki dasar logika. Demikian pula yang dilakukan PM Jepang Shigeru
Ishiba yang secara gamblang menyayangkan kebijakan tarif Trump dan meyakini
bahwa langkah tersebut menabrak aturan Organisasi Perdagangan Dunia (WTO).
![]() |
Sumber: cnbc.com |
Negara-negara ASEAN dan hampir seluruh
negara di seluruh dunia tidak luput dari kebijakan perang tarif Trump.
Indonesia dikenai tarif bea masuk sebesar 32 persen, Malaysia 24 persen,
Thailand 36 persen, Vietnam 46 persen, Singapura 10 persen, Filipina 17 persen,
Kamboja 49 persen, Myanmar 44 persen, Brunei 24 persen, dan Laos 48 persen. Sementara
negara-negara seperti China dikenai bea masuk 34 persen, Uni Eropa 20 persen,
Inggris, 10 persen, Jepang 24 persen, Australia 10 persen, India 26 persen,
Brazil 10 persen, Ukraina 10 persen, Afrika Selatan 30 persen, Turkiye 10
persen.
Inilah wujud kebijakan America
first yang menjadi jualan Trump pada masa kampanye. Segala hal dilakukan untuk
menjadikan Amerika hebat meskipun harus menabrak tatanan perdagangan dunia yang
selama ini sudah berlangsung baik. Dengan adanya kebijakan seperti ini,
hari-hari ke depan dunia akan menghadapi perang dagang. Negara-negara yang merasa
dirugikan akan langsung membalas kebijakan tersebut dengan memberlakukan perang
tarif serupa terhadap Amerika Serikat. Salah satu dampak langsung yang paling
terlihat setelah pengumuman bea tarif masuk barang-barang dari 180 negara ke AS
adalah naiknya harga emas dunia. Menurut data CNBC, harga logam mulia emas
pasca pengumuman tarif baru Trump menyentuh harga 3.180 dollar AS per troy ons,
tertinggi sepanjang sejarah.
Kebijakan perang dagang yang dideklarasikan Trump benar-benar ampuh membuat perekonomian global bergejolak. Para pelaku ekonomi yang dalam hal ini investor global bergerak cepat mengamankan portfolio kekayaan atau keuangan mereka ke aset yang relatif aman (safe haven) seperti emas sehingga komoditas ini kemudian menjadi mahal harganya karena permintaan pasar tingggi. Hal ini dapat dipahami bahwa para pelaku ekonomi internasional tidak mau aset mereka terdampak gejolak perang dagang yang sudah ditabuh Trump dan belum lagi gejolak geopolitik Timur Tengah di mana Amerika Serikat juga bermain di situ.
0 Response to "Perang Dagang Internasional 2025 Resmi Dimulai"
Post a Comment